Selasa, 01 Mei 2012

Tugas IBD ke 2 (Wawancara dengan Pedagang di Pasar tanah)

Pada tanggal 26 April 2012, saya dengan teman-teman saya berkunjung ke Pasar Tanah Abang dalam menjalankan tugas IBD tentang wawancara dengan pedagang di Pasar Tanah Abang. Ketika kami melihat-lihat kami  tertarik dengan toko konveksi baju “Baju Pelangi”. Lalu kami meminta izin untuk wawancara kepada orang yang ada di toko tersebut. Berhubung  yang ada di toko hanya asisten yang punya toko, jadi kami mewawancarai asisten tersebut. Pemilik toko konveksi baju tersebut adalah Ibu Alin. Toko tersebut berdiri sejak awal April tahun 2011. Ibu Alin memilih Pasar Tanah Abang untuk memulai bisnis batiknya di karenakan tempat yang strategis. Haryuni begitulah dia di pangggilnya, dia  tinggal dekat Masjid Makmur di jl KH Mansyur. Sementara Ibu Alin tinggal di Kampung Bali, Jakarta Pusat(alamat lengkap tidak di kasih tau lantaran privasi beliau). Beliau menjual berbagai jenis batik. Seperti: Batik Pekalongan, Batik jogyakarta dan Batik buatan sendiri. Bisnis batik ibu Alinpun bisa menghasilkan omset sebesar 25 juta rupiah walau tokonya baru saja berdiri. Menurut saya omset segitu sangatlah fantastsi melihat usaha yang baru saja di dirikan olehnya dan membuat saya berpikir Tanah Abang benar-benar menjadi pilihan yang tepat untuk berbisnis. Memang  batik yang di jual oleh Ibu Alin jauh lebih menarik daripada penjual lainnya.

Selasa, 24 April 2012

Di Balik Tanah Abang


Pasar Tanah Abang siapa sih yang gak tau ? Pasar yang merupakan salah satu objek tertua di kawasan Ibukota Jakarta. Kalian tahu tidak asal mula nama Tanah Abang ? Dan bagaimana sih sejarah dari Pasar Tanah Abang ini ? di sini saya akan mencoba membahas sedikit tentang Pasar Tanah Abang tersebut. Sejarah di mulai ketika Kota Batavia mengalami perluasan tata kota ke arah Timur, selatan dan Barat ini terjadi pada abad ke-17. Salah seorang penyewa lahan di Tanah Abang bernama Phoa Bing Ham berkontribusi dengan membangun kanal yang menghubungkan ketiga wilayah itu yang juga digunakannya sebagai jalur distribusi untuk mengangkut hasil kebunnya untuk diperdagangkan.  Ia membuat jalur kanal dari selatan menyusur disepanjang Jl Gajah Mada hingga sampai ke kali Ciliwung di Timur.  Ke wilayah Barat Batavia, ia menggali kanal hingga ke ujung Kebon Sirih hingga terhubung ke Kali Krukut. 

Pembangunan kanal tersebut membuat berkembangnya mata rantai perdagangan yang menghubungkan satu wilayah ke wilayah di sekitar Batavia. Pada tahun 1735, salah seorang pemilik tanah yang bernama  Justinus vink mendirikan pasar Tanahabang  yang pada saat itu di kenal dengan Pasar Sabtu dan Pasar Weltevreden di kenal dengan Pasar Senen. Hari dan barang yang diperdagangkan di pasar ditentukan oleh pemerintah yang berkuasa berdasarkan surat izin yang dikeluarkan untuk masing-masing pasar.  Untuk Tanah Abang sendiri barang yang diperdagangkan adalah tekstil, kelontong dan hasil bumi.

Menjelang akhir abad ke-19, Tanah Abang pun mulai di banjir para pedagang dari Arab, hingga statistik mencatat jumlah orang Arab di Tanah Abang mencapai 13ribu jiwa pada tahun 1920.  Kedatangan orang-orang Arab membuat orang – orang sekitar berdagang ternak kambing itu di karenakan kegemaran orang Arab menyantap makanan sejenis domba itu.  Tak heran Tanah Abang juga dikenal dengan sebutan Pasar Kambing.  Konon, pedagang kambing yang ada saat ini merupakan pedagang kambing turun-temurun.

Hadirnya  Pasar Tanah Abang sangat berpengaruh terhadap tumbuhnya perkampungan disekitarnya.  Secara alami, banyak masyarakat bermukim dan membangun tempat tinggal hingga pemerintah membuat wilayah tersebut dalam satu kecamatan bernama Tanah Abang.

Nah untuk permasalahan asal nama Tanah Abang itu di buat, di kutip dari buku 250 Tahun Pasar Tanah Abang yang diterbitkan PD Pasar Jaya pada 1982. Tanah Abang tidak terlepas dari sejarah Kota Jakarta. Memang sampai saat ini belum diketahui secara pasti asal nama Tanah Abang tersebut,  karena belum ada sumber sejarah tertulis mengenai penemuan nama tersebut. Nama Tanah Abang mulai disebut-sebut pada pertengahan abad ke-17, sehingga banyak orang memperkirakan nama itu berasal dari tentara Mataram yang menyerang VOC pada 1628.

Tentara Mataram, seperti dituliskan dalam sejarah, tidak hanya melancarkan serangan dari arah lautan, namun juga mengepung kota dari arah selatan. Tentara Mataram menggunakan Tanah Abang sebagai pangkalan perang mereka, karena konturnya yang berbukit-bukit dengan genangan rawa-rawa di sekitarnya, yang mengalir ke Kali Krukut. Kawasan tersebut  bertanah merah, atau di kenal dalam bahasa Jawa "Abang".  Diperkirakan dari sanalah nama Tanah Abang  muncul.

Dengan dibangunnya Stasiun Tanah Abang, membuat pasar tersebut semakin berkembang. Dengan berkembangnya peradaban ditempat tersebut mulai dibangun tempat-tempat seperti Masjid Al Makmur dan Klenteng Hok Tek Tjen Sien yang keduanya seusia dengan Pasar Tanah Abang. Pada tahun 1973, Pasar Tanah Abang diremajakan, diganti dengan 4 bangunan berlantai empat, dan sudah mengalami dua kali kebakaran, pertama tanggal 30 Desember 1978, Blok A di lantai tiga dan kedua menimpa Blok B tanggal 13 Agustus 1979. Pada tahun 1975 tercatat kiosnya ada 4.351 buah dengan 3.016 pedagang.

            Setelah terjadi kebakaran pada tahun 2003, hampir seluruh kios-kios di pasar Tanah-abang hangus terbakar. Sisa bangunan yang masih berdiri tinggal Blok B, C dan D, sedangkan blok A sudah tidak layak pakai lagi langsung dirobohkan. Kemudian setahun kemudian menyusul Blok B, C, dan D yang pondasinya juga sudah tidak kuat lagi juga di robohkan. Ditempat inilah mulai didirikan Blok A yang selesai pada tahun 2005, dan Blok B yang selesai akhir tahun 2010 lalu. Pasar Blok A dan B ini sudah merupakan pasar modern yang menyerupai mal mal lain, full AC, parkir luas dan gedung bertingkat tinggi  dengan mengedepankan faktor kenyamanan dan keamanan.

Bisa di ambil kesimpulan bahwa nama dari Pasar Tanah Abang tersebut di ambil bukan dari seseorang pendirinya atau penemunya. Melainkan dari kawasan yang bertanah merah yang di sebut-sebut oleh warga sebagai Tanah Abang yang mengartikan Tanah Merah.
Berikut gambar dari Pasar Tanah Abang.


Sumber: 




Senin, 19 Maret 2012

Tanah Abang (Tenabang)

        Tanahabang merupakan resapan kata dari kata Tenabang dengan definisi atau arti kata dengan sejarah dan latar belakang yang beraneka-macam.  Perubahan jaman memberikan kontribusi dalam perubahan yang terjadi dalam sejarah wilayah yang sangat populer ini.  Tenabang menurut beberapa sumber sejarah berasal dari kata NABANG, sebuah pohon sejenis palm yang banyak tumbuh di daerah yang banyak dikelilingi rawa-rawa.  Orang Belanda menyebutnya DE NABANG yang lambat-laun populer di telinga masyarakat dan entah bagaimana kemudian berevolusi menjadi sebutan TENABANG.   Penamaan atau sebutan wilayah seperti itu memang jamak terjadi dan berlaku juga di wilayah sekitar jakarta, disamping karena mudah diingat juga karena banyaknya perkebunan yang ada di sekitar wilayah itu seperti penyebutan untuk Kebon Kacang, kebon sirih, kebon jahe dan lain sebagainya.

         Kawasan TENABANG itu sendiri awalnya merupakan milik pribadi orang-orang Belanda berupa hutan atau tanah kosong yang kemudian disewa oleh orang China untuk dijadikan wilayah pertanian atau peternakan. Untuk perkebunan mereka biasanya menanam tebu, sirih, jahe, melati, kacang sesuai kebutuhan komoditas yang dibutuhkan saat itu.  Tenabang juga dikenal sebagai kober, sebutan untuk areal pemakaman, karena digunakan juga untuk mengubur jenazah yang mesti diangkut terlebih dahulu dengan sampan melewati rawa sebelum sampai ditanah pekuburan.

        Versi lain berdasar buku “Kampung Tua di Jakarta” yang diterbitkan Dinas Museum dan Sejarah DKI, pemberian nama Tanah Abang diilhami dari kondisi tanah di wilayah tersebut yang berwarna merah.  Abang dalam bahasa jawa berarti merah, yang diberikan oleh pasukan Mataram dari tanah Jawa yang tengah berperang dengan VOC dan membuat basis-basis pertahanan di sekitar wilayah tersebut.

 

Sejarah Tanah Abang

Kompleks Pasar Tanah Abang merupakan salah satu objek sejarah di Ibukota. Mengutip buku 250 Tahun Pasar Tanah Abang yang diterbitkan PD Pasar Jaya pada 1982, Tanah Abang tidak terlepas dari sejarah Kota Jakarta. Memang sampai saat ini belum diketahui secara pasti asal nama Tanah Abang, karena belum ada sumber sejarah tertulis mengenai penemuan nama tersebut.
Nama Tanah Abang mulai disebut-sebut pada pertengahan abad ke-17, sehingga banyak orang memperkirakan nama itu berasal dari tentara Mataram yang menyerang VOC pada 1628.

Tentara Mataram, seperti dituliskan dalam sejarah, tidak hanya melancarkan serangan dari arah lautan, namun juga mengepung kota dari arah selatan. Tentara Mataram menggunakan Tanah Abang sebagai pangkalan perang mereka, karena konturnya yang berbukit-bukit dengan genangan rawa-rawa di sekitarnya, yang mengalir ke Kali Krukut. Kawasan itu bertanah merah, atau "abang" dalam bahasa Jawa. Diperkirakan dari sana nama itu muncul.

Pada tahun 1940 terjadi Peristiwa Chineezenmoord, pembantaian orang-orang China, perusakan harta benda, termasuk Pasar Tanah Abang diporak-porandakan dan dibakar. Pada tahun 1881, Pasar Tanah Abang kembali dibangun dan yang tadinya dibuka pada hari Sabtu, ditambah hari Rabu, sehingga Pasar Tanah Abang dibuka 2 kali seminggu. Bangunan Pasar pada mulanya sangat sederhana ,terdiri dari dinding bambu dan papan serta atap rumbia dari 229 papan dan 139 petak bambu.. Pasar Tanah Abang terus mengalami perbaikan hingga akhir abad ke-19 dan bagian lantainya mulai dikeraskan dengan pondasi adukan. Pada tahun 1913, Pasar Tanah Abang kembali diperbaiki. Pada tahun 1926 pemerintah Batavia membongkar Pasar Tanah Abang dan diganti bangunan permanen berupa tiga los panjang dari tembok dan papan serta beratap genteng, dengan kantor pasarnya berada di atas bangunan pasar mirip kandang burung. Pelataran parkir di depan pasar menjadi tempat parkir kuda-kuda penarik delman dan gerobak. Di situ tersedia kobakan air yang cukup besar, dan di seberang jalan ada toko yang khusus menjual dedak makanan kuda. Beberapa puluh meter dari toko dedak ada sebuah gang yang dikenal sebagai Gang Madat, tempat lokalisasi para pemadat. Pada zaman pendudukan Jepang, pasar ini hampir tidak berfungsi, dan menjadi tempat para gelandangan.

Pasar Tanah Abang semakin berkembang setelah dibangunnya Stasiun Tanah Abang. Ditempat tersebut mulai dibangun tempat-tempat seperti Masjid Al Makmur dan Klenteng Hok Tek Tjen Sien yang keduanya seusia dengan Pasar Tanah Abang. Pada tahun 1973, Pasar Tanah Abang diremajakan, diganti dengan 4 bangunan berlantai empat, dan sudah mengalami dua kali kebakaran, pertama tanggal 30 Desember 1978, Blok A di lantai tiga dan kedua menimpa Blok B tanggal 13 Agustus 1979. Pada tahun 1975 tercatat kiosnya ada 4.351 buah dengan 3.016 pedagang.

Setelah terjadi kebakaran pada tahun 2003, hampir seluruh kios-kios di pasar Tanah-abang hangus terbakar. Sisa bangunan yang masih berdiri tinggal Blok B, C dan D, sedangkan blok A sudah tidak layak pakai lagi langsung dirobohkan. Kemudian setahun kemudian menyusul Blok B, C, dan D yang pondasinya juga sudah tidak kuat lagi juga di robohkan. Ditempat inilah mulai didirikan Blok A yang selesai pada tahun 2005, dan Blok B yang selesai akhir tahun ini 2010. Pasar Blok A dan B ini sudah merupakan pasar modern yang menyerupai mal mal lain, full AC, parkir luas dan gedung bertingkat tinggi  dengan mengedepankan faktor kenyamanan dan keamanan.

Sumber: